Tuesday, August 20, 2019

Kuliah S2 dengan Chevening Scholarship


Kawan, “Kok bisa?” adalah pertanyaan yang pernah saya tanyakan dulu, sekarang tidak lagi. Pada kesempatan ini saya akan berbagi cerita mengenai pengalaman saya meraih mimpi untuk kuliah di luar negeri melalui beasiswa Chevening 2019/2020. Semoga tulisan ini dapat memupuk semangat teman-teman semua yang juga memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan. Selamat membaca J

Bila ditanya “Kok bisa?”

Dulu saya sering bilang “Kok bisa?” ke kakak senior yang lulus beasiswa atau dapat kesempatan mewakili kampus dalam program pertukaran pelajar tanpa sadar bahwa pertanyaan ini memiliki makna “meragukan kemampuan” mereka sebagai orang yang tepat untuk mengikuti program itu (Kok bisa kamu yang lulus?). Padahal sejujurnya maksud saya ingin tahu bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan kesempatan itu (Gimana caranya?). Jadi lebih baik kita ganti pertanyaan “Kok bisa?” menjadi “Gimana caranya?” ya Kawan, agar gak melakukan kesalahan seperti yang saya pernah lakukan J. Kalau ditanya “Kok bisa kuliah di luar negeri?” maka jawaban saya adalah “Kenapa enggak? Karena dengan doa dan usaha, siapapun yang bersungguh-sungguh pasti berhasil”. Kalau ditanya “Bagaimana caranya?”, pada tulisan ini saya akan share pengalaman saya melamar beasiswa sampai akhirnya mendapatkan rejeki untuk melanjutkan pendidikan di Inggris.

Motivasi Saya
Dari kecil saya sudah bercita-cita ingin menempuh pendidikan sampai meraih gelar Professor walaupun saya gak pernah masuk peringkat lima besar waktu SD. Saat itu, guru saya selalu bilang ‘Rajin-rajin belajar di rumah ya nak”, tapi saya tidak pernah lakukan selain mengerjakan PR saja karena saya tidak paham bagaimana yang dimaksud “belajar” itu sebenarnya sampai saya mulai duduk di bangku SMP, saat dimana semangat saya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya mulai muncul.

Memasuki usia remaja, saya mulai menyadari bahwa “belajar dengan giat” adalah salah satu hal yang saya bisa lakukan untuk membantu Ayah dan Ibu. Ketika sepulang sekolah saya sering melihat peluh Ayah menetes di kulitnya yang memerah karena bekerja sebagai kuli panggul di tengah teriknya matahari, dan ketika melihat lelahnya Ibu mencuci pakaian dari rumah ke rumah, di dalam hati saya berjanji bahwa saya akan belajar dengan giat agar ketika dewasa saya dapat meringankan beban Ayah dan Ibu yang dulu tidak bisa melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi.

Untuk jajan dan ongkos pergi kuliah, saya sering jualan makanan ringan dan air mineral saat jam istirahat. Sepulang kuliah, saya mengajar privat bahasa Inggris, dan membuka jasa pengetikan 500,- per halaman yang Alhamdulillah hasilnya bisa digunakan juga untuk membeli buku perkuliahan dan biaya makan sehari-hari. Untuk mempertajam ilmu yang saya pelajari di kampus, saya mengikuti organisasi yang berorientasi pada pendidikan di Medan dan hadir di pameran-pameran pendidikan luar negeri demi mendapatkan informasi tentang beasiswa kuliah di luar negeri.

Gagal ? Jangan menyerah!
Saya selalu merasa bahwa saya sangat beruntung karena bisa menjadi Chevening Scholar tahun 2019 setelah 4 kali tidak lulus melamar beasiswa lainnya. Dari semester pertama kuliah saya sudah mendownload form aplikasi beasiswa Fulbright, LPDP, AAS, dan MEXT. Mendapatkan kesempatan mengunjungi negeri Paman Sam di tahun 2016 membuat saya semakin semangat untuk melanjutkan pendidikan S2 di U.S. Saya coba mendaftar beasiswa Fulbright di tahun 2018 tetapi gagal di seleksi dokumen. Dosen sering mengingatkan saya bahwa apa yang kita inginkan terkadang bukan rejeki kita, jadi saya juga coba daftar beasiswa AAS di tahun 2018, tetapi juga gagal di seleksi dokumen.

Karena kegagalan ini, Ibu dan teman-teman menyarankan saya untuk kuliah di Indonesia saja yang kampusnya juga tidak kalah bagus dengan kampus-kampus di luar negeri karena dimanapun kita kuliah, setelah selesai kita akan kembali ke Indonesia juga. Kalau kuliah di dalam negeri adalah rejeki kita, setelah lulus kuliah kita juga bisa jalan-jalan ke luar negeri kan? Begitu kata teman-teman saya. Meskipun begitu, dengan tetap mengumpulkan informasi untuk kuliah di dalam negeri, saya beranikan diri untuk melamar beasiswa Chevening pada bulan Agustus di tahun 2018, dan karena pengumuman beasiswa ini ada di bulan Januari-Februari 2019, maka menunggu itu saya juga apply beasiswa Fulbright dan AAS lagi di tahun 2019.

Daftar Beasiswa Chevening? Persiapkan 5 Hal ini!
Chevening merupakan program beasiswa penuh yang diberikan oleh Pemerintah Inggris kepada kita yang ingin melanjutkan pendidikan S2 jurusan apapun di Inggris selama 1 tahun. Di tahun 2019 ini, pendaftaran beasiswa untuk 2020/2021 dibuka pada bulan Agustus dan akan ditutup pada bulan November. Informasi lengkap mengenai beasiswa Chevening bisa teman-teman lihat di https://www.chevening.org.

Untuk melamar beasiswa Chevening, kita tidak harus memiliki sertifikat IElTS, Surat rekomendasi, dan LOA terlebih dahulu. Kita hanya perlu mengisi form pendaftaran online dan menuliskan 4 buah essay yang diminta pada form aplikasi tersebut. Dokumen-dokumen seperti IELTS, Surat rekomendasi dan LOA bisa menyusul setelah kita masuk ke tahap interview. Selanjutnya, menurut pengalaman saya, ada lima hal yang kita perlu perhatikan untuk melamar beasiswa Chevening, yaitu:

1) Courses (Jurusan)
Chevening mengharuskan kita untuk mengajukan tiga jurusan pada kampus yang sama atau satu jurusan pada tiga kampus berbeda. Jadi dari sekarang, teman-teman yang mau daftar sudah bisa cari informasi sebanyak-banyaknya dan menentukan pilihan jurusan apa yang mau diambil di Inggris nanti. Akan lebih baik apabila jurusan yang teman-teman ambil berkaitan dengan hubungan kerjasama antara Inggris dan Indonesia dan berkaitan dengan pengalaman bekerja (chevening mewajibkan pelamarnya untuk memiliki pengalaman bekerja selama dua tahun). Selanjutnya, perhatikan nilai IELTS yang diminta masing-masing kampus yang akan dituju, saran saya buat peringkat kampus dengan nilai IELTS paling tinggi, sendang, dan agak rendah. Alasannya adalah supaya kita bisa dapat Letter of Acceptance (LOA) Unconditional dari salah satu kampus kalaupun nilai IELTS kita agak rendah.

2) Eligibility (Persyaratan)
Syarat-syarat untuk melamar beasiswa Chevening secara lengkap teman-teman baca di http://www.chevening.org. Salah satu syarat tersebut misalnya adalah belum pernah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Inggris sebelumnya dan harus memiliki pengalaman bekerja selama dua tahun.

3) English language requirement
Di form aplikasi online Chevening, kita tidak perlu melampirkan sertifikat kemampuan bahasa Inggris, namun apabila kita lulus seleksi dokumen maka kita perlu melampirkan sertifikat itu sebelum tenggat waktu yang ditentukan oleh Chevening. Untuk aplikasi tahun 2020/2021, sertifikat kemampuan bahasa Inggris harus kita kumpulkan paling lambat pada tanggal 16 July 2020. Saran saya, teman-teman bersiap-siap untuk mengambil test IELTS sedini mungkin karena sertifikat itu nanti juga diperlukan untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) Unconditional dari kampus tujuan kita. Saya ambil IELTS 3 kali baru bisa dapat skor yang cukup untuk mendapatkan LOA, jadi teman-teman harus belajar dari sekarang supaya persiapannya lebih matang dan semoga tes satu kali sudah mendapatkan nilai yang diminta kampus.

4) References
Surat rekomendasi tidak perlu kita lampirkan waktu mengisi formulir online pendaftaran beasiswa Chevening, tetapi apabila kita masuk ke tahap interview maka harus ada dua orang yang mengirimkan surat rekomendasinya kepada pihak beasiswa Chevening. Dua orang ini salah satunya bisa dosen kita waktu kuliah, dan satu lagi bisa atasan di tempat kita bekerja. Dosen dan atasan kita pasti senang mendengar kabar bahwa kita masuk ke tahap interview J. Untuk keberangkatan tahun 2020, surat rekomendasi ini paling lambat dikirim pada tanggal 25 Februari 2020.

5) Work experiences
Nah, salah satu persyaratan Chevening yang berbeda dari beasiswa lainnya adalah pengalaman bekerja. Beasiswa Chevening mengharuskan kita untuk memiliki pengalaman bekerja setidaknya selama dua tahun (2,800 jam). Pengalaman ini boleh full-time, part-time, voluntary, atau internships yang nanti akan digabung jumlah jamnya.

Jadi bisa disimpulkan, pada saat melamar beasiswa Chevening kita tidak perlu IELTS, LOA, dan surat rekomendasi. Apabila kita lulus seleksi dokumen dan diundang untuk wawancara, maka kita harus mengumpulkan IELTS, LOA, dan surat rekomendasi sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh beasiswa Chevening. Meskipun begitu, akan sangat baik apabila teman-teman mulai belajar IELTS dari sekarang dan mulai berbicara ke dosen atau atasan teman-teman mengenai niat teman-teman untuk melamar beasiswa ini.

Proses Seleksi Beasiswa Chevening
Seleksi beasiswa Chevening dari mulai pendaftaran sampai keberangkatan cukup lama teman-teman. Contohnya, saya daftar di bulan Agustus 2018, maka akan berangkat dan mulai kuliah di bulan September tahun 2019 yang Insya Allah akan selesai pada bulan September 2020. Berikut adalah Timeline beasiswa Chevening untuk aplikasi 2020/2021:
5 August 2019                                                Aplication open at 12:00 BTS
5 November 2019                               Aplication close at 12:00 GMT
6 November 2019                               Applications are sifted against eligibility criteria.
Mid-November to December 2019     Reading committee assessments
Early to Mid-February 2020               Applicants shortlisted for interviews
February 2020                                     References and education documents deadline
2 March to 1 May 2020                      Interviews take place
Early June 2020                                  Results
16 July 2020                                        Offer Deadline (IELTS and LOA)
September/October 2020                    Studies begin in the UK

Yuk kita pelajari poin-point pentingnya:

5 August 2019                                               
Aplication open at 12:00 BTS
Di tahap ini, teman-teman harus pastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam pengisian form aplikasi online beasiswa Chevening. Periksalah dengan teliti, dan minta bantuan orang lain yang bersedia memberikan feedback untuk essay teman-teman. Ada empat macam essay yang harus kita tulis dan setiap essay maksimum 500 kata. Dulu saya minta saran dan feedback dari dosen-dosen, atasan, dan teman-teman saya. Terimakasih ya Sir, Mam, dan semua kawan-kawan J. Berikut adalah empat macam essay yang kita tulis untuk melamar beasiswa Chevening:

1) Leadership and Influence
Chevening is looking for individuals that will be future leaders or influencers in their home countries. Explain how you meet this requirement, using clear examples of your own leadership and influencing skills to support your answer.

2) Networking
Chevening is looking for individuals with strong networking skills, who will engage with the Chevening community and influence and lead others in their chosen profession. Explain how you meet this requirement, using clear examples of your networking skills, and outline how you hope to use these skills in the future.

3) Studying in the UK
Outline why you have selected your chosen three university courses, and explain how this relates to your previous academic or professional experience and your plans for the future.

4) Career Path
Chevening is looking for individuals who have a clear post-study career plan. Outline your immediate plans upon returning home and your longer term career goals, considering how these relate to UK priorities in your country.
*UK priority areas can be found on your country page of the Chevening website

Untuk menulis ke empat essay ini teman-teman bisa banyak membaca contoh-contoh yang bisa teman-teman temukan melalui mesin pencari di Internet. Saya berterimakasih banyak kepada kakak-kakak yang sudah berbagi tips untuk menulis essay beasiswa Chevening dan tips interview beasiswa Chevening. Beberapa diantaranya adalah:
YouTube kak Aga Prima (https://youtu.be/08ZainaJeYl)

5 November 2019                 
Aplication close at 12:00 GMT
Pada tahap ini teman-teman tidak boleh terlambat ya, dan saya sarankan jangan menunggu di hari-hari menjelang penutupan pendaftaran karena biasanya akan sangat lambat sekali sebagaimana yang saya alami tahun lalu. Saya mengumpulkan pendaftaran secara online tepat satu hari sebelum pendaftaran ditutup (tidak patut dicontoh hehe) dan halaman form pendaftarannya susah diakses.

Setelah form pendaftaran aplikasi kita submit, maka tahap selanjutnya adalah bersiap-siap untuk ambil ujian IELTS dan banyak berdoa dan meminta orang tua, guru, atasan, dan teman-teman yang lain juga mendoakan kita. Untuk mempersiapkan IELTS saya download buku-buku gratis dari ieltsmaterial.com dan saya kerjakan soal-soal latihan IELTS setiap hari. Bagian Listening dan Reading bisa saya cek sendiri dari kunci jawaban yang ada, tetapi untuk writing dan speaking saya meminta bantuan dan saran dari teman-teman yang pernah ambil ujian IELTS sebelumnya. Terimakasih banyak ya kawan-kawan, semoga Allah membalas kebaikan kawan-kawan semuanya.

Early to Mid-February 2020                       
Applicants shortlisted for interviews
Dari kurang lebih 5000 pelamar, apabila aplikasi pendaftaran beasiswa Chevening kita lulus seleksi dokumen, maka kita akan mendapatkan email yang menyatakan bahwa kita longlisted (kurang lebih 500 orang). Tetapi kita yang masuk ke daftar longlisted belum tentu diundang untuk wawancara di Indonesia karena yang diundang ke tahap wawancara adalah kita yang masuk ke tahap selanjutnya, yaitu; shortlisted (kurang lebih 250 orang). Jumlah ini tidak sama setiap tahunnya, ini hanya perkiraan jumlah pelamar pada tahun 2018 saja. Untuk tahun selanjutnya, bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit, tetapi secara umum seperti itu.

February 2020                                              
References and education documents deadline
Walapun kita belum tentu lulus wawancara, kita tidak boleh terlambat mengingatkan dosen atau atasan yang akan memberikan rekomendasi kita akan tenggat pengumpulan surat rekomendasi. Apabila saat pengisian form aplikasi di awal pendaftaran kita belum melampirkan terjemahan transkrip nilai dan ijazah, maka pada tahap ini kita harus lampirkan itu. Di internet ada banyak tempat penerjemahan ijazah tersumpah yang bisa teman-teman kunjungi apabila di kota teman-teman sulit ditemukan.

2 March to 1 May 2020                    
Interviews take place
Wawancara beasiswa Chevening diadakan di kota yang terdekat dengan kita, saat itu saya wawancara di sebuah hotel di Medan. Pelamar yang dari Padang dan Aceh juga datang ke Medan untuk wawancara, dan kita bisa memilih jadwal wawancara kita. Satu jam sebelum wawancara, saya sudah hadir dan coba menghilangan grogi dengan berbagi cerita dan menyapa peserta lain. Ada tiga orang yang duduk di hadapan saya di dalam ruangan wawancara saat itu, seorang dari beasiswa Chevening, seorang dari FCO, dan seorang alumni beaasiswa Chevening.

Untuk mempersiapkan diri sebelum wawancara, dulu saya suka menonton video tips wawancara beasiswa Chevening dari YouTube dan baca dari blog-blog di Internet, termasuk dari website Chevening itu sendiri. Website Chevening menurut saya sangat membantu sekali karena kaya informasi, termasuk tips wawancara. Jadi, kita harus rajin-rajin mampir ke website Chevening dan membaca informasi di sana. Misalnya informasi tentang interview bisa kita baca di:

Yakinlah, selama kita mau berusaha maka Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Apapun hasil akhirnya, kita harus yakin bahwa kita sudah melalui proses panjang dan usaha terbaik kita, selebihnya Allah yang akan menentukan bagaimana hasilnya. Jadi kalau kita lulus, alhamdulillah, kalau belum lulus juga alhamdulillah sebab kita patut menghargai proses dari pada produk. Untuk mempersiapkan interview, saya dulu suka menulis dan membayangkan bagaimana interview nanti termasuk tanya jawab sendiri kisi-kisi pertanyaan interview sambil jalan hehe (^-^).

Saya agak pemalu and agak introvert sejujurnya J, dulu waktu kuliah, saya ga pernah menang kalau ada lomba public speaking. Nah sebelum memasuki ruang wawancara, saya yang biasanya selalu demam panggung dan grogi kalau bicara di depan umum, hari itu sama sekali ga deg degan, saya tawakkal pada hasil akhir interview nanti karena sudah prepare sebaik mungkin.

Dari informasi yang say baca, diundang wawancara adalah tanda bahwa kita mampu untuk kuliah di Inggris, selanjutnya kita perlu meyakinkan pemberi beasiswa bahwa kita serius, bersedia, bersemangat, dan bersiap menempuh pendidikan di Inggris. Walaupun pelamar lainnya awesome-awesome, we are shining in our own stage. Jadi menurut saya kita harus unik dan specific, tidak meniru-niru orang lain. Lebih baik jujur, walaupun itu pahit kan?
Tidak terasa 30 menit, saya keluar dari ruangan dengan sumringah dan tanpa sadar sambil lompat karena senangnya sudah sampai tahap interview (padahal saya pakai high-heels wkwk, untung gak kepeleset).Setelah tahap interview berlalu, saya terus berdoa dan ambil tes IELTS beberapa kali.

Early June 2020                               
Results
Untuk tetap update, teman-teman bisa cari grup Telegram beasiswa apapun yang teman-teman ingin lamar. Di grup itu nanti teman-teman akan bertemu dengan orang-orang yang sama-sama melamar beasiswa seperti teman-teman dan ketika masuk tahap interview bisa membuat grup WhatsApp untuk saling berbagi informasi mengenai persiapan interview (P.S: Special thanks to Mas Taufik yang sudah membuat grup WA kita). Menunggu hasil interview, kita semua cek email tiap hari dan tiap jam karena deg deg-an sebab dari Telegram group Chevening dan dari Facebook Chevening ada pelamar dari negara-negara lain yang sudah menerima pengumuman hasil interview dari email mereka. Tepat setelah sholat maghrib, saya melihat email dan alhamdulillah Conditionally Selected (lulus bersyarat). Jadi Conditionally Selected maksudnya adalah kita sudah lulus interview tetapi masih harus mengumpulkan sertifikat TB, IELTS, dan LOA Unconditional dari salah satu kampus pilihan kita. Jika tidak bisa melengkapi syarat tersebut maka kita akan gugur dan akan digantikan oleh Reserve Candidate.

16 July 2020                                      
Offer Deadline (IELTS and LOA)
Seperti yang saya sudah sebutkan sebelumnya, untuk mendapatkan LOA Unconditional kita harus memenuhi nilai IELTS yang diminta oleh kampus tujuan kita. Untuk memperoleh LOA, kita harus melamar sendiri ke kampus. Jadi setelah selesai mengumpulkan aplikasi form pendaftaran beasiswa Chevening, saya mulai melamar ke tiga kampus pilihan saya. Sekitar dua bulan setelahnya, saya mendapatkan LOA Conditional (bersyarat) karena nilai IELTS saya belum cukup untuk memenuhi persyaratan yang diminta kampus. Umumnya universitas-universitas di Inggris meminta minimal 6.5 overal score untuk IELTS, dengan nilai writing yang berbeda-beda. Jadi misalnya, ada kampus yang meminta overal score IELTS minimal 6.5, dengan nilai writing 6,5, ada juga kampus yang meminta overal score IELTS minimal 7, dengan nilai writing minimal 6. Maka kita harus perhatikan berapa nilai IELTS yang diminta oleh kampus kita agar tidak terlalu sulit untuk kita penuhi.

Pertama kali saya ambil IELTS di tanggal 10 November 2018, tetapi nilai writing masih 5. Maka saya ambil IELTS ke dua kali di bulan Juni 2019, tetapi nilai writing masih 5.5. Semakin dekatnya tenggat waktu untuk mengumpulkan IELTS dan Unconditional LOA membuat saya hampir menyerah. Tetapi terimakasih kepada orang tua, guru, dan teman-teman yang selalu memberikan semangat, saya berusaha dan menemukan titik celah kesalahan saya di bagian writing tersebut dari teman yang membaca hasil tulisan saya pada bagian writing task 1 dan task 2 IELTS. Terimakasih kepada mereka sehingga saya akhinya bisa dapat nilai IELTS overall 7 dengan writing 6 yang membuat saya akhirnya mendapatkan LOA Unconditional dari kampus pilihan saya.  

Beasiswa Chevening tidak memberikan biaya ujian IELTS dan ongkos pesawat yang digunakan untuk tes TB. Maka teman-teman perlu menabung sebagai persiapan untuk ambil tes IELTS, ongkos pesawat untuk tes TB dan mengurus visa (visa dibiayai oleh beasiswa Chevening, ongkos pesawat untuk janji temu Visa tidak dibiayai). Kemudian, teman-teman juga memerlukan ongkos pesawat untuk Orientasi di Jakarta. Jadi harus menabung dan mempersiapkan diri agar tidak berulangkali ambil IELTS yang kurang lebih 2.900.000 per sekali tes. 

Begitulah pengalaman saya meraih beasiswa Chevening. Semoga informasi yang saya berikan dapat bermanfaat bagi teman-teman yang akan apply beasiswa ini. Tetap semangat dan terus berdoa, karena Allah yang berkehendak, kita hanya berusaha. Keadaan ekonomi tidak akan menghalangi harapan kita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Seperti siput, walapun kita memerlukan waktu yang banyak untuk sampai ke garis finish, yakinlah bahwa dengan semangat pantang menyerah dan usaha kita, pasti kita sampai di garis finish. Dosen saya berkata, kita harus belajar dari bola basket yang ketika jatuh tidak melempem tetapi memantul ke atas, jadi semakin kita dibanting, semakin kita kuat. Beasiswa itu bukan didapat karena kepintaran semata tetapi karena usaha dan doa yang tidak berkesudahan.  Semangat teman-teman semua, semoga Allah memberikan hasil yang terbaik, dan mohon doakan semoga Allah selalu membimbing kita dimanapun kita berada.

Terimakasih karena sudah membaca cerita saya, kalau ada yang ingin teman-teman tanyakan silakan tinggalkan pesan di kolom komentar di bawah ya. Semangat!