Kawan, “Kok bisa?” adalah
pertanyaan yang pernah saya tanyakan dulu, sekarang tidak lagi. Pada kesempatan
ini saya akan berbagi cerita mengenai pengalaman saya meraih mimpi untuk kuliah
di luar negeri melalui beasiswa Chevening 2019/2020. Semoga tulisan ini dapat
memupuk semangat teman-teman semua yang juga memiliki harapan untuk melanjutkan
pendidikan. Selamat membaca J
Bila ditanya “Kok bisa?”
Dulu saya sering bilang “Kok
bisa?” ke kakak senior yang lulus beasiswa atau dapat kesempatan mewakili
kampus dalam program pertukaran pelajar tanpa sadar bahwa pertanyaan ini
memiliki makna “meragukan kemampuan” mereka sebagai orang yang tepat untuk
mengikuti program itu (Kok bisa kamu yang lulus?). Padahal sejujurnya maksud
saya ingin tahu bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan kesempatan itu
(Gimana caranya?). Jadi lebih baik kita ganti pertanyaan “Kok bisa?” menjadi
“Gimana caranya?” ya Kawan, agar gak melakukan kesalahan seperti yang saya
pernah lakukan J.
Kalau ditanya “Kok bisa kuliah di luar negeri?” maka jawaban saya adalah
“Kenapa enggak? Karena dengan doa dan usaha, siapapun yang bersungguh-sungguh
pasti berhasil”. Kalau ditanya “Bagaimana caranya?”, pada tulisan ini saya akan
share pengalaman saya melamar beasiswa sampai akhirnya mendapatkan rejeki untuk
melanjutkan pendidikan di Inggris.
Motivasi Saya
Dari kecil saya sudah
bercita-cita ingin menempuh pendidikan sampai meraih gelar Professor walaupun
saya gak pernah masuk peringkat lima besar waktu SD. Saat itu, guru saya selalu
bilang ‘Rajin-rajin belajar di rumah ya nak”, tapi saya tidak pernah lakukan
selain mengerjakan PR saja karena saya tidak paham bagaimana yang dimaksud
“belajar” itu sebenarnya sampai saya mulai duduk di bangku SMP, saat dimana semangat
saya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya mulai muncul.
Memasuki usia remaja, saya mulai
menyadari bahwa “belajar dengan giat” adalah salah satu hal yang saya bisa
lakukan untuk membantu Ayah dan Ibu. Ketika sepulang sekolah saya sering melihat
peluh Ayah menetes di kulitnya yang memerah karena bekerja sebagai kuli panggul
di tengah teriknya matahari, dan ketika melihat lelahnya Ibu mencuci pakaian
dari rumah ke rumah, di dalam hati saya berjanji bahwa saya akan belajar dengan
giat agar ketika dewasa saya dapat meringankan beban Ayah dan Ibu yang dulu tidak
bisa melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi.
Untuk jajan dan ongkos pergi
kuliah, saya sering jualan makanan ringan dan air mineral saat jam istirahat.
Sepulang kuliah, saya mengajar privat bahasa Inggris, dan membuka jasa
pengetikan 500,- per halaman yang Alhamdulillah hasilnya bisa digunakan juga
untuk membeli buku perkuliahan dan biaya makan sehari-hari. Untuk mempertajam
ilmu yang saya pelajari di kampus, saya mengikuti organisasi yang berorientasi
pada pendidikan di Medan dan hadir di pameran-pameran pendidikan luar negeri
demi mendapatkan informasi tentang beasiswa kuliah di luar negeri.
Gagal ? Jangan menyerah!
Saya selalu merasa bahwa saya
sangat beruntung karena bisa menjadi Chevening Scholar tahun 2019 setelah 4
kali tidak lulus melamar beasiswa lainnya. Dari semester pertama kuliah saya
sudah mendownload form aplikasi beasiswa Fulbright, LPDP, AAS, dan MEXT.
Mendapatkan kesempatan mengunjungi negeri Paman Sam di tahun 2016 membuat saya
semakin semangat untuk melanjutkan pendidikan S2 di U.S. Saya coba mendaftar beasiswa
Fulbright di tahun 2018 tetapi gagal di seleksi dokumen. Dosen sering
mengingatkan saya bahwa apa yang kita inginkan terkadang bukan rejeki kita,
jadi saya juga coba daftar beasiswa AAS di tahun 2018, tetapi juga gagal di
seleksi dokumen.
Karena kegagalan ini, Ibu dan
teman-teman menyarankan saya untuk kuliah di Indonesia saja yang kampusnya juga
tidak kalah bagus dengan kampus-kampus di luar negeri karena dimanapun kita kuliah,
setelah selesai kita akan kembali ke Indonesia juga. Kalau kuliah di dalam
negeri adalah rejeki kita, setelah lulus kuliah kita juga bisa jalan-jalan ke
luar negeri kan? Begitu kata teman-teman saya. Meskipun begitu, dengan tetap
mengumpulkan informasi untuk kuliah di dalam negeri, saya beranikan diri untuk
melamar beasiswa Chevening pada bulan Agustus di tahun 2018, dan karena
pengumuman beasiswa ini ada di bulan Januari-Februari 2019, maka menunggu itu
saya juga apply beasiswa Fulbright dan AAS lagi di tahun 2019.
Daftar Beasiswa Chevening? Persiapkan
5 Hal ini!
Chevening merupakan program
beasiswa penuh yang diberikan oleh Pemerintah Inggris kepada kita yang ingin
melanjutkan pendidikan S2 jurusan apapun di Inggris selama 1 tahun. Di tahun
2019 ini, pendaftaran beasiswa untuk 2020/2021 dibuka pada bulan Agustus dan
akan ditutup pada bulan November. Informasi lengkap mengenai beasiswa Chevening
bisa teman-teman lihat di https://www.chevening.org.
Untuk melamar beasiswa Chevening,
kita tidak harus memiliki sertifikat IElTS, Surat rekomendasi, dan LOA terlebih
dahulu. Kita hanya perlu mengisi form pendaftaran online dan menuliskan 4 buah
essay yang diminta pada form aplikasi tersebut. Dokumen-dokumen seperti IELTS,
Surat rekomendasi dan LOA bisa menyusul setelah kita masuk ke tahap interview.
Selanjutnya, menurut pengalaman saya, ada lima hal yang kita perlu perhatikan untuk
melamar beasiswa Chevening, yaitu:
1) Courses (Jurusan)
Chevening
mengharuskan kita untuk mengajukan tiga jurusan pada kampus yang sama atau satu
jurusan pada tiga kampus berbeda. Jadi dari sekarang, teman-teman yang mau
daftar sudah bisa cari informasi sebanyak-banyaknya dan menentukan pilihan
jurusan apa yang mau diambil di Inggris nanti. Akan lebih baik apabila jurusan
yang teman-teman ambil berkaitan dengan hubungan kerjasama antara Inggris dan Indonesia
dan berkaitan dengan pengalaman bekerja (chevening mewajibkan pelamarnya untuk
memiliki pengalaman bekerja selama dua tahun). Selanjutnya, perhatikan nilai
IELTS yang diminta masing-masing kampus yang akan dituju, saran saya buat
peringkat kampus dengan nilai IELTS paling tinggi, sendang, dan agak rendah.
Alasannya adalah supaya kita bisa dapat Letter of Acceptance (LOA)
Unconditional dari salah satu kampus kalaupun nilai IELTS kita agak rendah.
2) Eligibility (Persyaratan)
Syarat-syarat
untuk melamar beasiswa Chevening secara lengkap teman-teman baca di http://www.chevening.org. Salah satu syarat
tersebut misalnya adalah belum pernah mendapatkan beasiswa dari pemerintah
Inggris sebelumnya dan harus memiliki pengalaman bekerja selama dua tahun.
3) English language requirement
Di form aplikasi
online Chevening, kita tidak perlu melampirkan sertifikat kemampuan bahasa
Inggris, namun apabila kita lulus seleksi dokumen maka kita perlu melampirkan
sertifikat itu sebelum tenggat waktu yang ditentukan oleh Chevening. Untuk aplikasi
tahun 2020/2021, sertifikat kemampuan bahasa Inggris harus kita kumpulkan
paling lambat pada tanggal 16 July 2020. Saran saya, teman-teman bersiap-siap
untuk mengambil test IELTS sedini mungkin karena sertifikat itu nanti juga
diperlukan untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LOA) Unconditional dari
kampus tujuan kita. Saya ambil IELTS 3 kali baru bisa dapat skor yang cukup
untuk mendapatkan LOA, jadi teman-teman harus belajar dari sekarang supaya
persiapannya lebih matang dan semoga tes satu kali sudah mendapatkan nilai yang
diminta kampus.
4) References
Surat
rekomendasi tidak perlu kita lampirkan waktu mengisi formulir online
pendaftaran beasiswa Chevening, tetapi apabila kita masuk ke tahap interview
maka harus ada dua orang yang mengirimkan surat rekomendasinya kepada pihak
beasiswa Chevening. Dua orang ini salah satunya bisa dosen kita waktu kuliah,
dan satu lagi bisa atasan di tempat kita bekerja. Dosen dan atasan kita pasti
senang mendengar kabar bahwa kita masuk ke tahap interview J.
Untuk keberangkatan tahun 2020, surat rekomendasi ini paling lambat dikirim
pada tanggal 25 Februari 2020.
5) Work experiences
Nah, salah satu
persyaratan Chevening yang berbeda dari beasiswa lainnya adalah pengalaman
bekerja. Beasiswa Chevening mengharuskan kita untuk memiliki pengalaman bekerja
setidaknya selama dua tahun (2,800 jam). Pengalaman ini boleh full-time,
part-time, voluntary, atau internships yang nanti akan digabung jumlah jamnya.
Jadi bisa disimpulkan, pada saat
melamar beasiswa Chevening kita tidak perlu IELTS, LOA, dan surat rekomendasi.
Apabila kita lulus seleksi dokumen dan diundang untuk wawancara, maka kita
harus mengumpulkan IELTS, LOA, dan surat rekomendasi sebelum tenggat waktu yang
diberikan oleh beasiswa Chevening. Meskipun begitu, akan sangat baik apabila
teman-teman mulai belajar IELTS dari sekarang dan mulai berbicara ke dosen atau
atasan teman-teman mengenai niat teman-teman untuk melamar beasiswa ini.
Proses Seleksi Beasiswa
Chevening
Seleksi beasiswa Chevening dari
mulai pendaftaran sampai keberangkatan cukup lama teman-teman. Contohnya, saya
daftar di bulan Agustus 2018, maka akan berangkat dan mulai kuliah di bulan
September tahun 2019 yang Insya Allah akan selesai pada bulan September 2020. Berikut
adalah Timeline beasiswa Chevening untuk aplikasi 2020/2021:
5 August 2019 Aplication
open at 12:00 BTS
5 November 2019 Aplication close
at 12:00 GMT
6 November 2019 Applications are
sifted against eligibility criteria.
Mid-November to December 2019 Reading committee assessments
Early to Mid-February 2020 Applicants shortlisted for
interviews
February 2020 References
and education documents deadline
2 March to 1 May 2020 Interviews take place
Early June 2020 Results
16 July 2020 Offer
Deadline (IELTS and LOA)
September/October 2020 Studies begin in the UK
Yuk kita pelajari poin-point
pentingnya:
5 August 2019
Aplication open at 12:00 BTS
Di tahap ini, teman-teman harus
pastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam pengisian form aplikasi online
beasiswa Chevening. Periksalah dengan teliti, dan minta bantuan orang lain yang
bersedia memberikan feedback untuk essay teman-teman. Ada empat macam essay
yang harus kita tulis dan setiap essay maksimum 500 kata. Dulu saya minta saran
dan feedback dari dosen-dosen, atasan, dan teman-teman saya. Terimakasih ya
Sir, Mam, dan semua kawan-kawan J. Berikut adalah empat macam essay yang kita tulis untuk
melamar beasiswa Chevening:
1) Leadership and Influence
Chevening is
looking for individuals that will be future leaders or influencers in their
home countries. Explain how you meet this requirement, using clear examples of
your own leadership and influencing skills to support your answer.
2) Networking
Chevening is
looking for individuals with strong networking skills, who will engage with the
Chevening community and influence and lead others in their chosen profession.
Explain how you meet this requirement, using clear examples of your networking
skills, and outline how you hope to use these skills in the future.
3) Studying in the UK
Outline why you
have selected your chosen three university courses, and explain how this
relates to your previous academic or professional experience and your plans for
the future.
4) Career Path
Chevening is
looking for individuals who have a clear post-study career plan. Outline your
immediate plans upon returning home and your longer term career goals,
considering how these relate to UK priorities in your country.
*UK priority areas
can be found on your country page of the Chevening website
Untuk menulis ke empat essay ini
teman-teman bisa banyak membaca contoh-contoh yang bisa teman-teman temukan
melalui mesin pencari di Internet. Saya berterimakasih banyak kepada kakak-kakak
yang sudah berbagi tips untuk menulis essay beasiswa Chevening dan tips
interview beasiswa Chevening. Beberapa diantaranya adalah:
Blog kak Nanak (https://greatpersie.wordpress.com/2018/09/10/cara-menulis-essay-beasiswa-chevening/)
Blog kak Nurul (https://nurulcuex.blogspot.com)
YouTube kak Aga Prima (https://youtu.be/08ZainaJeYl)
5 November 2019
Aplication close at 12:00 GMT
Pada tahap ini teman-teman tidak
boleh terlambat ya, dan saya sarankan jangan menunggu di hari-hari menjelang
penutupan pendaftaran karena biasanya akan sangat lambat sekali sebagaimana
yang saya alami tahun lalu. Saya mengumpulkan pendaftaran secara online tepat
satu hari sebelum pendaftaran ditutup (tidak patut dicontoh hehe) dan halaman
form pendaftarannya susah diakses.
Setelah form pendaftaran aplikasi
kita submit, maka tahap selanjutnya adalah bersiap-siap untuk ambil ujian IELTS
dan banyak berdoa dan meminta orang tua, guru, atasan, dan teman-teman yang
lain juga mendoakan kita. Untuk mempersiapkan IELTS saya download buku-buku
gratis dari ieltsmaterial.com dan saya kerjakan soal-soal latihan IELTS setiap
hari. Bagian Listening dan Reading bisa saya cek sendiri dari kunci jawaban
yang ada, tetapi untuk writing dan speaking saya meminta bantuan dan saran dari
teman-teman yang pernah ambil ujian IELTS sebelumnya. Terimakasih banyak ya
kawan-kawan, semoga Allah membalas kebaikan kawan-kawan semuanya.
Early to Mid-February 2020
Applicants shortlisted for
interviews
Dari kurang lebih 5000 pelamar, apabila
aplikasi pendaftaran beasiswa Chevening kita lulus seleksi dokumen, maka kita
akan mendapatkan email yang menyatakan bahwa kita longlisted (kurang lebih 500
orang). Tetapi kita yang masuk ke daftar longlisted belum tentu diundang untuk
wawancara di Indonesia karena yang diundang ke tahap wawancara adalah kita yang
masuk ke tahap selanjutnya, yaitu; shortlisted (kurang lebih 250 orang). Jumlah
ini tidak sama setiap tahunnya, ini hanya perkiraan jumlah pelamar pada tahun
2018 saja. Untuk tahun selanjutnya, bisa jadi lebih banyak atau lebih sedikit,
tetapi secara umum seperti itu.
February 2020
References and education
documents deadline
Walapun kita belum tentu lulus
wawancara, kita tidak boleh terlambat mengingatkan dosen atau atasan yang akan
memberikan rekomendasi kita akan tenggat pengumpulan surat rekomendasi. Apabila
saat pengisian form aplikasi di awal pendaftaran kita belum melampirkan
terjemahan transkrip nilai dan ijazah, maka pada tahap ini kita harus lampirkan
itu. Di internet ada banyak tempat penerjemahan ijazah tersumpah yang bisa teman-teman
kunjungi apabila di kota teman-teman sulit ditemukan.
2 March to 1 May 2020
Interviews take place
Wawancara beasiswa Chevening
diadakan di kota yang terdekat dengan kita, saat itu saya wawancara di sebuah
hotel di Medan. Pelamar yang dari Padang dan Aceh juga datang ke Medan untuk
wawancara, dan kita bisa memilih jadwal wawancara kita. Satu jam sebelum
wawancara, saya sudah hadir dan coba menghilangan grogi dengan berbagi cerita
dan menyapa peserta lain. Ada tiga orang yang duduk di hadapan saya di dalam
ruangan wawancara saat itu, seorang dari beasiswa Chevening, seorang dari FCO,
dan seorang alumni beaasiswa Chevening.
Untuk mempersiapkan diri sebelum
wawancara, dulu saya suka menonton video tips wawancara beasiswa Chevening dari
YouTube dan baca dari blog-blog di Internet, termasuk dari website Chevening
itu sendiri. Website Chevening menurut saya sangat membantu sekali karena kaya
informasi, termasuk tips wawancara. Jadi, kita harus rajin-rajin mampir ke
website Chevening dan membaca informasi di sana. Misalnya informasi tentang
interview bisa kita baca di:
Yakinlah, selama kita mau
berusaha maka Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Apapun hasil
akhirnya, kita harus yakin bahwa kita sudah melalui proses panjang dan usaha
terbaik kita, selebihnya Allah yang akan menentukan bagaimana hasilnya. Jadi
kalau kita lulus, alhamdulillah, kalau belum lulus juga alhamdulillah sebab
kita patut menghargai proses dari pada produk. Untuk mempersiapkan interview,
saya dulu suka menulis dan membayangkan bagaimana interview nanti termasuk
tanya jawab sendiri kisi-kisi pertanyaan interview sambil jalan hehe (^-^).
Saya agak pemalu and agak
introvert sejujurnya J, dulu waktu kuliah, saya ga pernah menang kalau ada
lomba public speaking. Nah sebelum memasuki ruang wawancara, saya yang biasanya
selalu demam panggung dan grogi kalau bicara di depan umum, hari itu sama
sekali ga deg degan, saya tawakkal pada hasil akhir interview nanti karena
sudah prepare sebaik mungkin.
Dari informasi yang say baca, diundang
wawancara adalah tanda bahwa kita mampu untuk kuliah di Inggris, selanjutnya
kita perlu meyakinkan pemberi beasiswa bahwa kita serius, bersedia,
bersemangat, dan bersiap menempuh pendidikan di Inggris. Walaupun pelamar
lainnya awesome-awesome, we are shining in our own stage. Jadi menurut saya
kita harus unik dan specific, tidak meniru-niru orang lain. Lebih baik jujur,
walaupun itu pahit kan?
Tidak terasa 30 menit, saya
keluar dari ruangan dengan sumringah dan tanpa sadar sambil lompat karena
senangnya sudah sampai tahap interview (padahal saya pakai high-heels wkwk,
untung gak kepeleset).Setelah tahap interview berlalu, saya terus berdoa dan
ambil tes IELTS beberapa kali.
Early June 2020
Results
Untuk tetap update, teman-teman
bisa cari grup Telegram beasiswa apapun yang teman-teman ingin lamar. Di grup
itu nanti teman-teman akan bertemu dengan orang-orang yang sama-sama melamar
beasiswa seperti teman-teman dan ketika masuk tahap interview bisa membuat grup
WhatsApp untuk saling berbagi informasi mengenai persiapan interview (P.S:
Special thanks to Mas Taufik yang sudah membuat grup WA kita). Menunggu hasil
interview, kita semua cek email tiap hari dan tiap jam karena deg deg-an sebab
dari Telegram group Chevening dan dari Facebook Chevening ada pelamar dari
negara-negara lain yang sudah menerima pengumuman hasil interview dari email
mereka. Tepat setelah sholat maghrib, saya melihat email dan alhamdulillah
Conditionally Selected (lulus bersyarat). Jadi Conditionally Selected maksudnya
adalah kita sudah lulus interview tetapi masih harus mengumpulkan sertifikat
TB, IELTS, dan LOA Unconditional dari salah satu kampus pilihan kita. Jika
tidak bisa melengkapi syarat tersebut maka kita akan gugur dan akan digantikan
oleh Reserve Candidate.
16 July 2020
Offer Deadline (IELTS and LOA)
Seperti yang saya sudah sebutkan
sebelumnya, untuk mendapatkan LOA Unconditional kita harus memenuhi nilai IELTS
yang diminta oleh kampus tujuan kita. Untuk memperoleh LOA, kita harus melamar
sendiri ke kampus. Jadi setelah selesai mengumpulkan aplikasi form pendaftaran
beasiswa Chevening, saya mulai melamar ke tiga kampus pilihan saya. Sekitar dua
bulan setelahnya, saya mendapatkan LOA Conditional (bersyarat) karena nilai
IELTS saya belum cukup untuk memenuhi persyaratan yang diminta kampus. Umumnya
universitas-universitas di Inggris meminta minimal 6.5 overal score untuk
IELTS, dengan nilai writing yang berbeda-beda. Jadi misalnya, ada kampus yang
meminta overal score IELTS minimal 6.5, dengan nilai writing 6,5, ada juga
kampus yang meminta overal score IELTS minimal 7, dengan nilai writing minimal
6. Maka kita harus perhatikan berapa nilai IELTS yang diminta oleh kampus kita
agar tidak terlalu sulit untuk kita penuhi.
Pertama kali saya ambil IELTS di
tanggal 10 November 2018, tetapi nilai writing masih 5. Maka saya ambil IELTS
ke dua kali di bulan Juni 2019, tetapi nilai writing masih 5.5. Semakin
dekatnya tenggat waktu untuk mengumpulkan IELTS dan Unconditional LOA membuat
saya hampir menyerah. Tetapi terimakasih kepada orang tua, guru, dan
teman-teman yang selalu memberikan semangat, saya berusaha dan menemukan titik
celah kesalahan saya di bagian writing tersebut dari teman yang membaca hasil
tulisan saya pada bagian writing task 1 dan task 2 IELTS. Terimakasih kepada mereka
sehingga saya akhinya bisa dapat nilai IELTS overall 7 dengan writing 6 yang
membuat saya akhirnya mendapatkan LOA Unconditional dari kampus pilihan saya.
Beasiswa Chevening tidak
memberikan biaya ujian IELTS dan ongkos pesawat yang digunakan untuk tes TB.
Maka teman-teman perlu menabung sebagai persiapan untuk ambil tes IELTS, ongkos
pesawat untuk tes TB dan mengurus visa (visa dibiayai oleh beasiswa Chevening,
ongkos pesawat untuk janji temu Visa tidak dibiayai). Kemudian, teman-teman
juga memerlukan ongkos pesawat untuk Orientasi di Jakarta. Jadi harus menabung
dan mempersiapkan diri agar tidak berulangkali ambil IELTS yang kurang lebih
2.900.000 per sekali tes.
Begitulah pengalaman saya meraih
beasiswa Chevening. Semoga informasi yang saya berikan dapat bermanfaat bagi
teman-teman yang akan apply beasiswa ini. Tetap semangat dan terus berdoa,
karena Allah yang berkehendak, kita hanya berusaha. Keadaan ekonomi tidak akan
menghalangi harapan kita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Seperti
siput, walapun kita memerlukan waktu yang banyak untuk sampai ke garis finish,
yakinlah bahwa dengan semangat pantang menyerah dan usaha kita, pasti kita
sampai di garis finish. Dosen saya berkata, kita harus belajar dari bola basket
yang ketika jatuh tidak melempem tetapi memantul ke atas, jadi semakin kita
dibanting, semakin kita kuat. Beasiswa itu bukan didapat karena kepintaran
semata tetapi karena usaha dan doa yang tidak berkesudahan. Semangat teman-teman semua, semoga Allah
memberikan hasil yang terbaik, dan mohon doakan semoga Allah selalu membimbing
kita dimanapun kita berada.
Terimakasih karena sudah membaca
cerita saya, kalau ada yang ingin teman-teman tanyakan silakan tinggalkan pesan
di kolom komentar di bawah ya. Semangat!